Hembusan angin
menerbangkan suara riuh akan tawa mu dan tawa ku, seolah menjadi pendengar bisu
akan apa yang kita bicarakan bersama. Menghabiskan sisa waktu senja berdua
denganmu, dengan ditemani secangkir minuman yang diselangi dengan senda gurau. Tanpa
kamu sadari, mata ku tak pernah lepas menatap raut wajahmu, seakan tak ingin
melewatkan satu pun mimik yang kamu tunjukkan. Alam sadar ku pun menyadari,
perlahan dalam hati aku berkata sambil terus memperhatikan mu “Ya, dia orang
yang sekarang tepat berada di depanku, adalah anugerah yang telah tuhan berikan
padaku, dan aku sangat menyayangi nya”.
Entah sudah
berapa puluh menit yang kita habiskan bersama, namun rasanya tak rela untuk
menghabiskan senja terlalu dini. Bahkan rasanya ingin menghentikan waktu saat
itu juga walaupun aku tak tahu bagaimana caranya. Namun waktu kian berputar
sehingga membuat kita harus segera mengakhiri hari. Dengan berat hati kita
melangkah pulang dan meninggalkan tempat yang
menjadi saksi akan kebersamaan kita.
Namun sehingga
senja pergi pun rasanya tak mampu melupakan setiap detik yang aku lewati
bersamamu, bahkan aku terlalu larut dalam perasaan bahagia yang kian membawaku
terbang menuju langit bebas. Sehingga semua yang berbau dunia sejenak
terlupakan olehku.
Ya, senja itu
milik kita, milik mu dan milik ku. Dibawah langit oranye yang indah, aku titipkan
sejenak kenangan yang telah membekas. Dengan segala keadaan, dengan segala
tempat, menjadi segala hal pemanis kenangan kamu dan aku.
No comments:
Post a Comment