Sunday, March 22, 2015

Senja Itu Milik Kita

Hembusan angin menerbangkan suara riuh akan tawa mu dan tawa ku, seolah menjadi pendengar bisu akan apa yang kita bicarakan bersama. Menghabiskan sisa waktu senja berdua denganmu, dengan ditemani secangkir minuman yang diselangi dengan senda gurau. Tanpa kamu sadari, mata ku tak pernah lepas menatap raut wajahmu, seakan tak ingin melewatkan satu pun mimik yang kamu tunjukkan. Alam sadar ku pun menyadari, perlahan dalam hati aku berkata sambil terus memperhatikan mu “Ya, dia orang yang sekarang tepat berada di depanku, adalah anugerah yang telah tuhan berikan padaku, dan aku sangat menyayangi nya”.

Entah sudah berapa puluh menit yang kita habiskan bersama, namun rasanya tak rela untuk menghabiskan senja terlalu dini. Bahkan rasanya ingin menghentikan waktu saat itu juga walaupun aku tak tahu bagaimana caranya. Namun waktu kian berputar sehingga membuat kita harus segera mengakhiri hari. Dengan berat hati kita melangkah pulang dan meninggalkan tempat yang  menjadi saksi akan kebersamaan kita.

Namun sehingga senja pergi pun rasanya tak mampu melupakan setiap detik yang aku lewati bersamamu, bahkan aku terlalu larut dalam perasaan bahagia yang kian membawaku terbang menuju langit bebas. Sehingga semua yang berbau dunia sejenak terlupakan olehku.

Ya, senja itu milik kita, milik mu dan milik ku. Dibawah langit oranye yang indah, aku titipkan sejenak kenangan yang telah membekas. Dengan segala keadaan, dengan segala tempat, menjadi segala hal pemanis kenangan kamu dan aku.

No comments:

Post a Comment